Ketetapan Niat dalam Perjalanan ke UI

  • 0

Ketetapan Niat dalam Perjalanan ke UI

danang
Namaku DANANG SETIYA RAHARJA. Sejak aku lahir tanggal 3 November 1995, Bapak dan Ibuku membiasakan memanggilku danang, jadilah nama panggilanku DANANG. Aku lahir dalam keluarga yang sangat bahagia, penuh cinta kasih, tapi juga sedih dan keterbelakangan. Bapakku, SUTOPO, adalah seorang pengrajin kayu, pada awalnya, kemudian beralih menjadi petani penggarap. Sedangkan Ibuku, SUKESI, adalah ibu rumah tangga biasa, pada awalnya, kemudian menjadi mencoba memproduksi tempe, dan sampai sekarang Ibuku menjadi pedagang tempe dan tentu saja ikut membantu Bapakku dalam bidang pertanian.

Aku terlahir dengan sejuta keajaiban dan keajaiban pertamaku adalah tempat kelahiranku ini. Aku lahir di sebuah desa kecil di pelosok hutan di kecamatan Jepon, kabupaten Blora provinsi Jawa Tengah Negara Indonesia, desa itu bernama “BLUNGUN”.Aku menyebut ini keajaiban karena ini adalah desa di tengah-tengah belantara hutan jati yang luas sobat. Hutan yang menjadi “paru-paru” dunia, hutan yang menjadi icon Indonesia sebagai permata hijau nan indah.

Eh… kok malah merembet ngebahas hutan sih..^_^, ok ok..kembali ke problem!Kondisi keluargaku sangatlah sederhana pake banget. Bagaimana tidak, Bapakku adalah lulusan SD dan Ibuku tamatan SMA, penghasilan keluarga kami hanya bertumpu pada hasil pertanian dan penjualan tempe tersebut. Sehingga untuk masalah biaya pendidikan, ya… hanya niat dan tekad kuatlah yang menjadi modal dasar.Perjalanan pendidikanku dimulai dari TK Pertiwi I Blungun.Waktu itu bisa dibilang sebagai keajaibanku yang kedua. Umur 3 tahun aku sedah mulai ikut sekolah TK karena kebetulan Bulikku yang waktu itu masih tinggal bersama keluargaku mengajar di TK sana. Jadi, daripada ketika pagi aku di rumah sendirian tidak ada yang menjaga, maka aku di ajak aja ke kesekolah, ikut-ikutan TK. Ya, maklum karena kalau pagi sampai siang kan orangtuaku pergi ngantor, ke sawah, sampai jam 11-an. Kemudian tahun ajaran baru berikutnya aku baru ikut sekolah TK secara serius karena Bulikku dapat pindah tugas ke Blora kota dan teman-teman di sekita lingkungan rumahku sudah pada masuk TK, jadi ya aku ikut sekolah aja. Menjalani TK satu tahun, semua teman-temanku naik ke SD, maka aku pun juga harus ikut naik dong, kalau gak dinaikkan aku bakalan gak mau sekolah, ancamku kepada bapak ibuku. Akhirnya entah bagaimana prosesnya aku bisa naik ke SD. Sehingga aku naik ke SD pada umur kurang lebih 4 ½ tahun.

Masa merah putih pun aku mulai dan perjalananku di jenjang merah putih dengan umur yang di bawah rata-rata tidak terlalu buruk.Pada setiap tingkatannya aku selalu masuklah kalau nominal 10 besar kelas.Alhamdulillah di pncak tertingginya, kelulusan kelas 6 aku mampu meraih nilai ujian terbaik di SD dan peringkat 1 kelas. Hebat juga ya….. J. After that, aku ingin melanjutkan SMP di kecamatan. Akan tetapi, tanggapan tidak terduga, tidak terkira keluar dari lidah bapakku, “Ojo…!! Cah ndeso kok sekolah neng ndeso.Sekolah neng SMP Bloro wae”.Ya… begitulah Bapakku, tekad bulatnya untuk menghantarkanku menjadi orang sukses sangatlah besar pake banget. “kanggo biayane, wes gak sah kok pikirke, mesthi ono dalane. Sing penting kowe sinauo sing tenanan ben dadi bocah sing pinter..!”, tambah Bapakku.

Akhirnya kau mendaftar di SMP N 2 BLora yang berstatus SSN pada waktu itu.Dengan sgala kekhawatiran, direima, nggak, ditrima, nggak… tapi aku tetap mencoba memberikan usaha terbaikku dapam tes seleksi masuknya.Alhamdulillah pada hari pengumuman tulisan “ditrima” yang tertera pada kolom namaku. Dari kurang lebih 400 siswa yang mendaftar, aku masuk peringkat 73, lumayan juga kan, gak terlalu buruk. Jenjang putih biru kehitaman pun ku mulai dengan status baru sebagai anak “KOS”.Itu aku lakoni yak arena letak desaku yang sangat tidak memungkinka jika aku ingin “nglaju/PP”.Inilah langkah awal bagiku untuk mulai hidup mandiri (bukan berarti mandi sendiri lho…). Aku mulai belajar mengendalikan dan mengatur semua keperluanku sendiri mulai dari belajar, les, ngaji, mencuci, menyetrika, bersih-bersih, mengelola keuangan atau uang saku, dan yang pasti bermain.Seperti yang dipesankan Bapakku, aku berusaha sebaik mungkin yang aku bisa dengan tekun dan disiplin dalam belajar serta tidak lupa menyertakan setiap impianku dalam setiap doaku kepada Sang Maha Kuasa.Dan salah satu impianku untuk menjadi yang terbaik di SMP akhirnya terwujud di semerter pertama kelas VII. Kamu tahu shobat, apa kira-kira itu…?? Saat pengumuman peringkat paralel kelas, pada peringkat pertama tertera nama “DANANG SETIYA RAHARJA”. Rasanya seperti mimpi, ternyata aku dapat mencapainya, aku bisa mendapatkannya, terima kasih Tuhan.Inilah bukti kebesaran kekuatan modal niat edan tekad, dengan mendapatka peringkat ini aku mendapatkan pembebasan spp selama 6 bulan, sehingga beban orang tuaku tinggal pada kos dan uang jajan saja, Alhamdulillah… aku jakhirnya juga dapat mempertahankan prestasiku tersebut sampae tamat SMP, sehingga bisa dibilang selama 3 tahun aku mendapatkan pembebasan uang sekolah.

Kemudian berlanjut ke jenjang putih abu-abu, aku ingin melanjutkan studiku ke SMA TARUNA NUSANTARA Magelang lewat jalur yang beasiswa tentunya karena kalau lewat jalur biasa tentu keluargaku tidak mampulah.Tapi sayang, ternyata itu belum rejekiku, aku gagal sehingga aku akhirnya melanjutkan ke SMA N 1 Blora.Pada masa putih abu-abu ini aku lalui dengan prestasi akademik yang biasa-biasa aja, paling yang masuk peringkat 5 kelas lah untuk tiap semesternya. Tetapi di sisi lain aku mendapatkan hal yang luar biasa pada pembelajaran dalam berorganisasi baik di OSIS, ROHIS, dan juga HIMPARISBA (Himpunan Pengajian Remaja Islam Blora). Aku mendapatkan banyak hal menarik dan luar biasa yang tidak akan pernah aku dapatkan jika aku hanya focus pada pendidikan akademis saja. Dan mulai dari sinilah muncul tekad baru untuk melanjutkan studiku nantinya ke Universitas Indonesia.Untuk mewujudkan itupun aku menyusun segudang strategi untuk mencapainya di dalam benakku, mulai dari motivasi diri misalnya dengan menulis atribut UI pada setiap buku pelajaranku, desktop laptop, dan juga menempeli kamar dengan atribut UI. Selain itu berbagai informasi terkait UI dari dunia maya aku kumpulkan serta tak lupa frekuensi belajar juga aku tingkatkan demi bisa membabat tuntas soal-soal yang akan kuhadapi pada saat seleksinya nanti. Salah satu strategi peningkatan frekuensi belajar, aku ikut dalam bimbel yang kebetulan ada gratisan dari piha GP Ansor Blora.Bimbel ini diselenggarakan selama sebulan dan itu di asramakan di ponpes Ngadipurwo Blora, sehingga benar-benar bisa lebih konsen untuk belajar.Selain itu, untuk rencana biaya kuliah, aku mendaftarkan diri ke beastudi Etos dan Bidik Misi.

Akhirnya saat-saat yang kunantikan tiba, pendaftaran mahasiswa baru UI dibuka.Jalur pertama adalah SNMPTN Undangan, aku juga masuk dalam daftar siswa yang diundang, tetapi nilaiku belum cukup untuk membawaku masuk ke UI. Akhirnya jalur kedua, SNMPTN Tulis dibuka, ak pun mendaftar dengan modal dari bimbel tersebut. Aku memparsiapkan diriku untuk menghadapi seleksi tulis ini dengan benar-benar matang, tentu saja dengan memperbanyak latihan soal.Kemudian gelombang ketiga, SIMAK, dibuka sebelum SNMPTN Tulis pengumuman, jadi aku pun juga mendaftar untuk berjaga-jaga sumpama pada Tulis aku gagal.Tapi syukurlah pada hari pengumuman tanggal 26 Juli 2012 di internet pada website UI, tertera bahwa “Selamat, danang sertiya raharja diterima sebagai maba t.sipil”.hmmm… rasanya aku begitu senang, terbang tinggi melambung jauh ke luar angkasa dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bapak Ibuku begitu sengan mendengan kabar aku ketrima di UI, akhirnya satu langkah lagi kami jalani untuk mengantarkaku ke kesuksesan. Sekarang kau tengan menunggu keputusan ALLH SWT mengenai persetujuan bidik misi yang akan menjadi biaya untuk aku kuliah nantinya. Semoga ALLAH masih memberikan ridho-Nya untuk bidik misiku, amin.Tapi yang pasti aku sangat bersyukur karena ALLAH telah mengabulkan doaku menjadi MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA tercinta.Inilah bukti nyata buah dari kekuatan modal niat dan tekad yang kuat.

Inilah aku yang sekarang

danang_besar


  • 0

UI, MIMPI SI AKU KECIL: “Api Kecil untuk AKU yang Baru”

mimpi

“Kalau kamu masuk UI, rasanya mama pasti senang banget ya ka?”

Entah kalimat itu sebuah pertanyaan atau sindiran. Terasa begitu menusuk ke otak dan hatiku. Malam itu, aku baru saja berbaring setelah seharian belajar di tempat les bimbel saat mama ikut berbaring di sebelahku. Mendengar mama berkata demikian, rasanya seperti ingin memeluknya tapi tidak punya tangan. Kalau saja mudah, tentu aku akan masuk kampus impian itu, Ma! Siapa yang tak ingin memakai jaket kuning itu? Jaket yang sudah kuimpikan semenjak duduk di bangku SD, bahkan sebelum aku mengerti apa dan bagaimanakah kuliah itu. Yang aku tahu, aku punya mimpi. Mimpi masuk kampus yang kata orang terbaik di Indonesia, UI.

Mama adalah satu-satunya alasan mengapa aku bertahan hidup. Aku selalu ingin mewujukan impian-impiannya terhadapku. Termasuk menjadi siswi jurusan IPA di saat SMA, meski jurusan impianku di kuliah nanti adalah sastra. Namun terasa begitu sedih ketika ia tahu aku tidak lolos seleksi SIMAK UI. Jelas saja, aku belum punya bekal IPS sama sekali untuk menjalani tes itu. Alhasil, cemoohan yang kudapat dari orang-orang yang memandang sebelah mata atas pilihanku mengapa aku memilih banting setir dari bidang IPA ke IPS.

Read More