Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.

  • 0

Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.

004673900_1411028673-arief-rachman

Pendidikan yang berkembang dan semakin maju di Indonesia tentu tidak lepas dari perjuangan para tokoh pendidikan Indonesia. Demi kemajuan bangsa serta mencerdaskan kehidupan masyarakat, para tokoh pendidikan indonesia itu rela melakukan apa saja, demiĀ kemajuan bangsa dan demi terbebasnya bangsa Indonesia dari belenggu kebodohan dan kemunduran pendidikan. Salah satu tokoh pendidikan Indonesia yang berperan penting dalam dunia pendidikan Indonesia adalah Bapak Arief Rachman.

Bapak yang bernama lengkap Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. ini lahir di Malang, 19 Juni 1942. Anak dari pasangan H.R. Abdoellah Rachman dan R. Siti Koeersilah ini sudah lama berlalu lalang di dunia pendidikan. Karier suami dari Dra. Hj. Haryati Suwardi di dunia pendidikan diawali dengan menjadi seorang guru di SMA Labschool Rawamangun, Jakarta.

Menurutnya belajar atau learning ada beberapa tahapan, yaitu (1) learning to know, tak cukup itu saja manusia sangat perlu kemudian (2) learning to do dari apa saja yang diketahui, selanjutnya kematangan manusia apabila sudah melaksanakan (3) learning to be, akhirnya manusia dikatakan manusia sejati apabila menjalankan (4) learning to learn together.
Keempat aspek belajar inilah yang membuat beliau menentang konsep Ujian Nasional disamping alasan keadilan pendidikan.

Karena keseriusannya di dunia pendidikan beliau diangkat menjadi kepala sekolah SMA yang sama. Dunia pendidikan tidak lepas dari tokoh yang satu ini. Beliau pernah menjadi dosen luar biasa di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia serta menjadi guru besar di Universitas Negeri Jakarta.

Tokoh pendidikan Indonesia yang menghabiskan masa kecilnya di Bogor ini pernah bertemu dengan George Walker Bush di Istana Bogor pada 20 November 2006 untuk membahas masalah pendidikan.

Saat ini, beliau menjadi Kepala Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO sejak 2001, Dosen Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Jakarta sejak 1964, serta Wakil Ketua Komisi Pencari Fakta Kekerasan IPDN yang dibentuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

 


Leave a Reply