Kisah “Anak Tukang Becak” Jadi Dokter dan Pengawal Presiden

  • 0

Kisah “Anak Tukang Becak” Jadi Dokter dan Pengawal Presiden

Tags : 

Dreams-005

Ini adalah cerita mengenai dua sosok teman sekaligus sahabat yang tak pernah menyerah dan berputus asa untuk mengejar cita-citanya. Cerita dan kisah nyata dari dua orang teman yang memiliki latar belakang keluarga hampir sama, dimana Mahmud dan ferry keduanya memiliki orang tua (ayah) bekerja sebagai penarik becak. Walau begitu mereka berdua tak pernah merasa malu dan canggung dalam pergaulan sehingga memiliki banyak teman disekolah.

Walau hidup serba kekurangan dan penuh kesederhanaan, Mahmud dan Feery tidak pernah sedikitpun terlihat minder dan berkecil hati. Beruntungnya kedua orang tua mereka masing-masing masih peduli akan pendidikan mereka. Tak seperti banyak anak dari keluarga miskin lain didaerah kami yang lebih memilih menyuruh anaknya bekerja dan akhirnya putus sekolah.

Prestasi belajar Ferry dan mahmud disekolah memang cukup menonjol. Tak heran jika mereka sering mendapatkan juara dikelasnya. Karena prestasinya tersebut  keduanya juga seringkali mendapatkan bea siswa dan keringanan biaya untuk sekolah mereka. Bermodal prestasi dan kecerdasannya itulah akhirnya mengapa walaupun berasal dari keluarga tidak mampu keduanya berhasil terus melanjutkan pendidikan dengan baik.

Setelah lulus dari SMP, kala itu mahmud mendapatkan beasiswa untuk masuk SMA Taruna Nusantara di Magelang, perlu diketahui Sekolah menengah Atas ini waktu itu menjadi sekolah terbaik di Indonesia. Sekolah dengan didikan semi militer ini menghasilkan calon-calon pemimpin bangsa handal dan disiplin. Mahmud pun disana lagi-lagi menjadi siswa yang cukup menonjol prestasinya diantara teman-teman yang lain.

Sementara di waktu yang berbeda Ferry lebih memilih untuk mengambil sekolah di SMA 1 Surakarta, salah satu sekolah menengah unggulan terbaik di Jawa tengah. Sama halnya dengan mahmud, prestasi Ferry disana juga boleh dibilang cukup dominan. Itulah mengapa dirinya selalu menjadi bintang kelas di sekolahannya. Tak hanya itu Ferry juga sering mewakili sekolahnya untuk ikut berbagai perlombaan baik tingkat daerah maupun nasional.

Atas berbagai raihan prestasi tersebut membuat mereka seringkali mendapatkan beasiswa belajar. Sehingga selama menempuh pendidikan, orang tua yang masing-masing bekerja jadi tukang becakpun juga tak merasa terbebani. Terlebih ketika lulus SMA bayangan akan harapan dan cita-cita mereka untuk mengenyam pendidikan tinggi hampir pupus, karena mahalnya biaya kuliah sementara jika dipikir penghasilan ayah dari menarik becak hanyalah cukup untuk makan keluarga sehari-hari. Namun hal itu tak menyurutkan mereka, sehingga mereka tak pernah ragu melangkah untuk mencapai jenjang pendidikan lebih tinggi.

Dasar kedua anak ini memang tak pernah sedikitpun ingin merepotkan orang tua, sekaligus yang ada dipikiran mereka hanya ingin membuat orang tua mereka bangga. Lagi-lagi setelah lulus SMA pun keduanya berhasil lolos seleksi masuk sekolah lanjutan tanpa biaya sepeserpun. Mahmud berhasil masuk ke Akademi Militer (Akmil) di magelang, sementara Ferry berhasil lolos masuk Fakultas kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta lewat jalur undangan (tanpa tes).

Patut diapresiasi dan diacungi jempol, karena seperti kita tahu untuk masuk di akmil dan fk-uns perlu perjuangan yang tak mudah. Akmil sebagai akademi pendidik calon Perwira militer tangguh, yang nantinya akan meluluskan para calon jenderal. Sebut saja Presiden SBY, jenderal (purn) wiranto, Letjen (purn)Prabowo subianto adalah lulusan-lulusan terbaik dari Akmil magelang. Begitu pula dengan Fakultas kedokteran UNS yang akan meluluskan calon-calon dokter hebat dimasa yang akan datang, juga tak semua orang bisa mengenyam pendidikan disana.

Latar belakang keluarga miskin tak pernah menyurutkan kemauan mereka berdua untuk merubah nasib dan menggapai cita-cita. Ketiadaan biaya juga tak membuat gentar mereka untuk masuk ke sekolah bergengsi tersebut. Mahmud berhasil menepis anggapan yang selama ini beredar bahwa untuk masuk masuk sekolah akmil memerlukan biaya pelicin hingga ratusan juta atau harus berasal dari keluarga turunan para jendral. Sama halnya dengan untuk masuk fakultas kedokteran, ferry juga berhasil masuk tanpa harus menyiapkan uang sumbangan ratusan juta seperti yang selama ini banyak terjadi dimasyarakat.

Tak hanya di smp dan sma, saat melanjutkan ke jenjang akmil dan pendidikan dokter, baik mahmud dan ferry juga terus melanjutkan prestasi gemilangnya. Walaupun dipertengahan perjalanan bagi ferry terasa berat, karena tiba-tiba ayahnya sakit keras sehingga dia harus fokus untuk kuliah dan merawat orang tuanya. Kondisi yang serba kekurangan membuat ayah ferry tidak bisa mendapatkan pengobatan maksimal. Itulah sebabnya ketika itu beberapa dosen sekaligus teman-teman kuliah berinisiatif untuk ikut membantu pengobatan dan kuliah ferry.

Selang 3 tahun menjalani pendidikan, mahmud berhasil lulus terlebih dahulu dari akademi militer. mahmud lulus dengan predikat sangat memuaskan dan berhasil terpilih menjadi pasukan khusus pengaman presiden (Paspampres). Merupakan sebuah tugas dan jabatan yang sangat terhormat sekaligus membanggakan bagi seorang tentara, ketika dipercaya untuk menjadi pasukan elite pengamanan presiden Republik Indonesia. Karena tidak semua tentara bisa mendapatkan posisi tersebut.

Sementara itu dilain tempat ferry masi harus menjalani kuliah hingga 6 tahun kedepan hingga dapat meraih gelar dokternya. Walaupun ditengah perjalanan, batu terjal menghadang ferry namun dia tak pernah sedikitpun patah semangat untuk menggapai cita-citanya. Minimnya biaya kuliah, membuatnya harus bekerja sambil kuliah. Mulai dari memberikan les privat, menjadi asisten dosen, berjualan buku, dsb, yang terpenting menurutnya halal dan bisa memberikan masukan tambahan untuk biaya perkuliahannya yang memang membutuhkan dana sangat besar.

Perjuangan itu berbuah manis, ketika setelah 6 tahun menempuh pendidikan perkuliahan ferry berhasil lulus dan dilantik menjadi seorang dokter. Tampak raut muka kedua orang tuanya begitu bangga ketika melihat anaknya memakai toga dan diwisuda sekaligus menyandang gelar dokter. Kini Ferry dan mahmud, benar-benar telah dapat menaikkan derajat orang tua mereka ke level yang lebih terhormat. Level yang ingin diraih oleh banyak orang tua ketika melihat anak-anak mereka sukses dalam pendidikan dan pekerjaan mereka.

Kedua anak ini pun telah membuktikan, bahwasanya materi bukanlah segalanya dalam rangka untuk mewujudkan cita-cita mereka. Semangat pantang menyerah, tekun belajar dan rajin berdoa adalah senjata utama mereka untuk meraih cita-cita. Tidak ada yang mustahil didunia ini jika Tuhan berkehendak, oleh karenanya apapun kondisi keluarga kita, selama masih ada niat dan keyakinan, pasti akan ada jalan supaya kita bisa meraih apa yang sudah kita cita-citakan.
salam sehat dan semangat menggapai cita-cita,,
dr. Wahyu Triasmara @konsuldokter

# Based on true story


Leave a Reply